Tajuk Rencana – Junjung Bhineka Tunggal Ika, Anti Radikalisme Disemarakkan

            Junjung Bhineka Tunggal Ika, Anti Radikalisme Disemarakkan

           Pancasila merupakan ideologi dan dasar Negara Republik Indonesia. Pernyataan tersebut pernah diungkapkan oleh Soekarno pada pidatonya di hadapan Rakyat Indonesia. Pernyataan ini juga didasarkan pada ketetapan MPRS No.XX/MPRS yang menjelaskan bahwa pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum atau sumber tertib hukum Indonesia pada hakikatnya adalah merupakan suatu pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita hukum serta cita-cita Indonesia. Menurut Soekarno, Pancasila adalah filososfi hidup masyarakat Indonesia, yang terinspirasi dari filosofi budaya dalam sejarah Indonesia, termasuk budaya agama yang ada di Indonesia.

            Namun sayangnya saat ini yang menjadi inspirasi terbentuknya Pancasila justu menjadi alasan munculnya kasus radikalisme di masyarakat. Terjadi perdebatan dimana-mana, perpecahan yang membentuk kelompok-kelompok kecil, hingga munculnya organisasi masyarakat (ormas) yang memiliki pandangan radikalisme dalam menjalankan organisasinya. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Ketua ADPK Sudarilah, saat membuka forum ‘Aktualisasi Pancasila sebagai Benteng Radikalisme di Lingkungan Perguruan Tinggi’ di di kampus STKIP Kusuma Negara, Cijantung, “Saat ini terjadi perkembangan situasi yang membahayakan ideologi Pancasila dan NKRI dengan maraknya kekerasan dan tindakan anarkis”. Ketua Badan Pengkajian Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD) Letjen TNI (Purn) Slamet Supriadi juga memaparkan, gerakan radikal bermula dari ketertinggalan pembangunan negara berkembang pun pemahaman agama yang sempit. Selain itu, adanya campur tangan pihak lain yang menjadi kelompok teror sebagai aktor lapangan dalam skenario proxy war yang pernah diakui oleh mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton. Negara Maju, cenderung membuat jebakan yang tidak disadari dengan membuat negara Islam Radikan di Mesir dan Suriah atau Irak. Sudah seharusnya kita bersama membangun negara bukan hanya sibuk oleh pola pikir masing-masing, pemerintah membutuhkan persatuan yang kuat untuk membangun bangsa bukan gerakan radikal yang justru melemahkan negara.

            Seperti yang diungkapkan oleh Hendra Mas, salah satu dosen pengajar mata kuliah PKN di UNDIKSHA, “secara kenyataan membuat sebuah kondisi bahwa kita itu dilahirkan secara berbeda, dengan kita dilahirkan secra berbeda biasanya kita akan muncul perasaan toleransi dengan perbedaan-perbedaan itu hingga menimbukan rasa kebangsaan dalam diri kita sendiri”. Salah satu contoh implementasi nyata yaitu kerukunan yang terjalin antara mahasiswa dan mahasiswi Undiksha yang terdiri dari beragam agama, suku, ras dan budaya tetapi tetap bisa menjalin suatu hubungan yang harmonis. Berbagai kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa Undiksha, salah satunya mengadakan bakti sosial. Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin hubungan baik dengan masyarakat. Jadi perbedaan bukanlah alasan untuk kita saling terpecah belah melainkan dengan adanya perbedaaan kita belajar mewujudkan hubungan yang harmonis dan saling berbagi, menghargai  dan menghormati guna tercapainya rasa peduli untuk mencapai tujuan dan cita-cita Negara Indonesia. Karena berbeda bukan berarti tidak ada yang sama, bukan juga berarti tak bisa bersama. Berbeda itu perlu, karena yang sama belum berarti harmonis.

(DS,BP)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s